Tingkat Kemiskinan NTT

Kupang (ANTARA News) – Nusa Tenggara Timur termasuk 10 dari 33 provinsi dengan angka kemiskinan tertinggi berdasarkan hasil Survei Sosial Ekonomi Nasional Badan Pusat Statistik 2010.

Kepala Bidang Statistik Sosial Badan Pusat Statik (BPS) Nusa Tenggara Timur (NTT) Sumarwanto, di Kupang, Kamis, mengatakan, dari 10 provinsi itu, NTT berada di urutan keenam berdasarkan tingkat perolehan persentase kemiskinan tertinggi.

Ia menyebut ke-10 provinsi yang dimaksud berdasarkan hasil survei tersebut berturut-turut adalah Provinsi Papua 36,80 persen, Papua Barat 34,88 persen, Maluku 27,74 persen, Sulawesi Barat 23,19 persen, Gorontalo 23,10, dan keenam NTT 23,03 persen.

Kemudian Nusa Tenggara Barat (NTB) 21,55 persen, Aceh 20,98 persen, Lampung 18,94 persen,  Bengkulu 18,30 persen, dan Sulawesi Tenganh 18,07 persen.

Kepala Badan Pusat Statistik (BPS) Rusman Heriawan mengatakan provinsi-provinsi ini masih menghadapi persoalan kemiskinan yang tinggi.

Bahkan, kata dia, angka kemiskinan yang tertinggi itu justru terjadi di wilayah dengan kekayaan sumber alam melimpah, seperti Papua dan Papua Barat, dimana prosentase angka kemiskinannya mencapai 34-36 persen atau jauh lebih besar dibandingkan rata-rata nasional sebesar 13,33 persen.

Selain Papua, provinsi lain yang memiliki prosentase penduduk miskin tinggi adalah Maluku, Nusa Tenggara Timur, Nusa Tenggara Barat, Aceh, Bangka Belitung.

Menurut Sumarwanto, penduduk miskin Provinsi NTT pada Maret 2010 mengalami kenaikan jika dibandingkan dengan Maret 2009 dari sebesar 1013,2 ribu menjadi 1014,1 ribu pada Maret 2009.

Ia mengatakan pada periode 2006-2010 jumlah penduduk miskin cenderung menurun dari 1273,9 ribu (29,34 persen) pada tahun 2006, menjadi 1163,6 ribu (27,51 persen) tahun 2007, 1098,3 ribu (25,65 persen) tahun 2008, 1013,2 ribu (23,31 persen) tahun 2009 dan menjadi 1014,1 ribu (23,03 persen) pada tahun 2010.

Dia mengatakan peningkatan jumlah dan persentase penduduk miskin Provinsi NTT selama Februari 2009-Maret 2010 terjadi karena harga barang-barang kebutuhan pokok selama periode tersebut naik tinggi, yang digambarkan oleh inflasi umum sebesar 8,70 persen.

Akibatnya kata Sarjana Demografi jebolan Jerman ini, penduduk yang tergolong tidak miskin namun penghasilannya berada disekitar garis kemiskinan banyak yang bergeser posisinya menjadi miskin.

Ia menyebut jumlah penduduk miskin di NTT pada bulan Maret 2010 sebesar 1,014 juta orang (23,03 persen) dan jika ibandingkan dengan penduduk miskin pada Maret 2009 sebesar 1,103 juta orang (23,31 persen), berarti jumlah penduduk miskin pada tahun 2010 naik sebesar 0,95 ribu.

“Meskipun demikian persentase penduduk miskin pada Maret 2010 masih lebih rendah dibandingkan keadaan Maret 2009,” katanya.

Menurut dia, besar-kecilnya atau tinggi-rendahnya jumlah penduduk miskin sangat dipengaruhi oleh garis kemiskinan, karena penduduk miskin adalah penduduk yang memiliki rata-rata pengeluaran per kapita per bulan dibawah garis kemiskinan.

Untuk wilayah NTT, selama Maret 2009-Maret 2010, garis kemiskinan naik sebesar 12,24 persen, yaitu dari Rp 156,191,- per kapita per bulan pada Maret 2009 menjadi Rp 175,308,- per kapita per bulan pada Maret 2010.

Persentase kenaikan garis kemiskinan lebih tinggi terjadi di daerah pedesaan dibanding daerah perkotaan, masing-masing 12,82 persen dan 10,52 persen pada periode yang sama.

ANT-084/K004/AR09

Editor: B Kunto Wibisono

COPYRIGHT © 2010

 

 

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s